Sejak awal januari kemarin perutku terasa nggak enak lagi, tapi aku coba alihkan perhatian dan menganggap sakit di perut itu hanya hal biasa dan ga perlu ditakutkan, ditambah statement dokter Jusef yang heran dengan hasil laboratorium yang negatif sehingga beliau menyimpulkan sakitku nanti akan sembuh sendirinya jika dibawa travelling.... so aku menganggap sakit ini ga bahaya dan bukan hal yang perlu dikuatirkan.
19 hari berlalu rasa sakitnya kadang berkurang sehingga tidak mengganggu aktivitas sama sekali, tapi minggu lalu sempet kram perut berhari-hari bahkan mengeluarkan lendir merah dan banyak dari "Ms V" , aku coba bertahan dengan berfikir aku bisa mengatasi ini semua dan untuk pengobatannya aku hanya menggunakan metronidazole Sup yang di masukkan kedalam "Ms V" setiap malam selama 7 hari, hasilnya lendir merah sudah tidak keluar lagi, kram perutnya berangsur-angsur membaik, tapi rasa sakit (perih) seperti luka teriris yang terkena cairan asam itu masih muncul dan tambah sering disekitar perut dan luka bekas operasi, sebenernya ini sangat menggangguku. Apalagi saat ini waktu sibukku sebagai tax n accounting. Selain lagi pemeriksaan pajak juga persiapan tutup buku 2014 yang harus segera diselesaikan.
Satu-satunya yang bisa buat aku bertahan adalah men sugesti diri bahwa Tuhan akan mengijinkan untuk aku baik-baik saja, aku sehat, aku kuat dan aku mampu menjalani hari-hariku dengan baik dan itu cukup berhasil.... buktinya aku masih bisa ke kantor, aku masih bisa meeting sama pemeriksa pajak dan aku masih bisa menghibur orang yang sakit, Thanks God......
Justru yang kuatir adalah hubby...... hubby yang suruh aku kembali periksakan ke dokter lagi, aku berdalih untuk apa??? aku sudah diperiksa oleh beberapa dokter, dengan diagnosa macem-macem, awalnya sesuai hasil CT Scan katanya ususnya melintir , ada dinding usus menebal dan endometriosis tapi hasil akhir ketika di laparoskopi (perutnya di lubangi kecil 3 titik dan oleh dokter dimasukin kamera dan alat agar bisa melihat ada apa di dalam perut) Dr. Ong (Ahli kandungan yang praktek di RS Bethsaida) bilang tidak ada endometriosis, bersih (Semula beberapa dokter menyatakan ada endometriosis bahkan Dr. Christopora (dokter kandungan yang memeriksa aku sewaktu di rawat inap di RS Siloam bilang ada Myiom walau secara ukuran masih kecil dan seharusnya tidak membuat perutku sakit) , sedangkan Dr Jusef bilang tidak melihat usus yang melintir seperti dikatakan hasil CT Scan Abdomen waktu aku di rawat Siloam , yang beliau temukan adalah ada bagian usus yang berwarna merah menyala dan banyak getah bening di usus, diagnosa berikut berubah menjadi TB Usus untuk itu diambillah jaringan usus untuk diperiksa di bagian pantologi. Seminggu kemudian hasil keluar dan ternyata hasilnya unspesified, untung saja biayanya sudah termasuk dalam rawat inap jadi aku ga tau berapa biaya untuk pemeriksaan pantologi tersebut. Kemudiaan saat kontrol, aku di suruh Dr Jusef untuk periksa laboratorium lagi khusus TB, yang bisa melakukan pemeriksaan tersebut hanya di RS Siloam dan laboratorium Prodia, setelah bandingin harganya aku pilih periksa di lab Prodia (selisih harga Rp. 300.000, lumayan banget kan).
Seminggu kemudian , hasil lab keluar dan aku kontrol kembali ke Dr Jusef, melihat hasil lab yang negatif dokternya juga bingung, karena beliau yakin banget bahwa diagnosa nya benar, tapi karena hasil negatif maka disimpulkan bahwa ususku hanya radang saja dan di kasih obat radang usus (salofalk 500) yang harganya lumayan mahal. Itu menjadi pertemuanku terakhir dengan Dr Jusef , setelah itu aku tidak kembali padanya juga tidak ke dokter lain.
Anggap saja ini sebuah mujizat dari TUHAN, bahwa memang diagnosa para dokter yang sudah memeriksa aku itu benar, hanya saja TUHAN punya cara lain untuk menyembuhkanku. Dan sakit yang sekarang adalah supaya aku selalu bersandar padaNYA sehingga aku tidak meninggalkanNYA.
So, just hug me n love me..... it's more than enough, n i used my mind to cover my pain
Monday, January 19, 2015
Wednesday, January 07, 2015
Akhirnya finalisasi juga
Thanks God for blessing me, buat hikmat dan akal budi sehingga urusan dg KPP pratama KJ2 selesai. Hari ini sesuai dg jadwal undangan aku dan pak Hw datang tepat waktu. Dan syukur pada Tuhan karena di detik terakhir sebelum pak Hw tandatangan, aku diingatkan kembali untuk periksa kembali dan membahas penasaranku akan selisih angka yg ternyata sudah aku koreksi di Spt eh di tambahin lg jadi double deh..... Awalnya PA Yonas tetep keukeh sama hitungannya dan yakin dia sudah benar, aku coba jelaskan kepada atasannya bahwa ini double dan aku tunjukan dokumen yang aku bawa, dan beliau setuju bahwa memang double hitung. Jadi last minute koreksi lagi (sebelumnya Yonas sudah print revision krn aku bisa kasih bukti pendukung lagi) , satelah dia sudah koreksi 2 kali (membutuhkan waktu sekitar 45 menitan untuk revisi) dan aku minta dihapuskan sanksi STP sebesar 1 juta karena kami sudah melaporkan permohonan perpanjangan 1771y jadi tidak seharusnya di denda. Walhasil dia revisi lagi untuk yang ke tiga kalinya dan 2 tahun pajak sekaligus :)
Maaf ya pak, memang aku rada sengaja komplainnya satu-satu, niat mo ngerjain bapak, abis bapak sih nyebelin selama pemeriksaan, tapi terima kasih buat suggest nya.
Friday, November 07, 2014
Diagnosa baru
Akhirnya laparoscopy sudah selesai.....anehnya apa yang didiagnosa awal oleh dokter mengenai perlengketan usus, usus yang melintir (hasil CT Scan contras) dan adanya endometriosis yang menempel didinding rahim sehingga kenapa harus dilakukan tindakan laparascopy tersebut, ternyata tidak ada. Rahimnya bersih, tetapi ada yang aneh dengan si usus ini..... nampak merah tua dan berlendir sehingga Dr Jusef mendiagnosa sebagai TB Usus (baru jelas hasilnya setelah dilakukan test lab) ini hanya diagnosa dari kondisi yang tampak . Dan jika memang benar TB Usus maka aku harus mengkonsumsi obat selama 8 bulan tidak boleh putus dan selama itu pula tidak diperkenankan hamil, maka saat operasi itu,atas ijin hubby Dr Ong selaku Dr obgyn langsung mensteril aku.
Saat sadar, dan diberitahu bahwa aku di steril, ada rasa sedih yang menjalan...ntah kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang, apa aku mo punya baby lagi????? harusnya tidak.....but Why????
Semoga semuanya akan baik-baik saja, juga dengan si usus ini....God, aku ga mau makan obat terus menerus segitu lama.....semoga TB Usus itu ga pernah ada dalam tubuhku, dan ku yakin oleh bilur-bilurMu aku sudah sembuh.
Saat sadar, dan diberitahu bahwa aku di steril, ada rasa sedih yang menjalan...ntah kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang, apa aku mo punya baby lagi????? harusnya tidak.....but Why????
Semoga semuanya akan baik-baik saja, juga dengan si usus ini....God, aku ga mau makan obat terus menerus segitu lama.....semoga TB Usus itu ga pernah ada dalam tubuhku, dan ku yakin oleh bilur-bilurMu aku sudah sembuh.
Thursday, October 30, 2014
Bermalam di Bethsaida
Akhirnya waktunya telah tiba, setelah ditunda beberapa minggu untuk tindakan laparoscopy, besok aku siap. Hari ini, jam 12 tadi aku masuk RS bethsaida atas rujukan Dr Jusef, semua dicek ulang lagi. Cek darah, rontgen paru & perut, EKG semua dilakukan untuk memenuhi prosedur sebelum operasi. Semoga semua biaya dapat tercover oleh asuransi .
Jesus bless Me......
Thursday, October 23, 2014
Curhatan siang
Sekali lagi apa yg sudah direncanakan bisa jadi tanpa seijinNya itu tidak akan terlaksana.
Sebenernya sejak hari minggu kmrn aku dan hubby sudah ngatur jadwal operasinya. Direncanakan hari rabu masuk untuj persiapan dan kamis pagi (23 okt) sudah bisa di operasi. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Rabu pagi dapat khabar klo emak Yul (mamanya mami mertua) meninggal. Aku sudah niat mo mundurin op nya supaya kita bisa pulang dulu ke Semarang, tapi hubby ngelarang..... Tetep jalan sesuai rencana aja. Sahabatku dikantor juga bilang demikian, menurut mereka kesembuhanku jauh lbh penting dari sekedar ngurusin orang yang meninggal. Akhirnya ok, jam 14.30 setelah anak2 pulang sekolah, aku diantar hubby ke RS Bethsaida. Sampai disana, langsung ke tempat pendaftaran rawat inap.... Tapi ternyata setelah dokter Jusefnya di konfirm, minggu ini beliau tidak bisa dan diundur hari senin 27 okt. Akhirnya aku pulang kembali ke rumah dan meyakini bahwa emang inilah yg terbaik, jadi mami bisa segera pulang ke semarang buat ngurusin emak yang sudah meninggal. Awalnya aku masih ngerasa peduli dan kasian.... Kami berencana untuk menanggung biaya untuk emak yg terakhir kalinya, tapi begitu aku dengar adiknya mami milih peti mati yg harganya 10 jt aku rada kaget, ga salah yaaa.... Padahal waktu papi mertuaku meninggal aja kami tidak membelikannya peti mati yg semahal itu , kenapa? Karena kmi pikir ga worth it, peti itu pada akhirnya dibakar dan hancur, yg penting petinya bagus, rapih....... Dan cukup untuk jenasah nya. Biaya yang harus dikeluarkan ga hanya cuma peti mati kan? Makanya kami berusaha mengatur keuangan sedemikian agar cukup dananya. Eh ini malah seenaknya sendiri mentang-mentang ada yg nanggung. Aku yang mau operasi aja mikir gmn caranya agar tabungan masa depan anak2 jangan sampai terpakai untuk aku, jadi aku juga ga rela klo sampai keganggu untuk menutup biaya yang tidak diperhitungkan tsb.
Oppsss jd nggak ihklas deh..... Ngapain aku repot ngurusin, untuk diriku sendiri saja aku rela cari yang lebih terjangkau biayanya, sampai-sampai kayak gini kejadiannya. Op ku tertunda , rasa sakitnya ga kunjung hilang..... Semoga aku masih diberi kekuatan untuk mengatasinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
